Dua belas pasien tuduh tokoh ‘pengobatan spiritual’ melakukan pelecehan seks

Sejumlah perempuan mengungkapkan bahwa seorang rohaniawan Brasil yang terkenal dalam penyembuhan alternatif melalui metoda spiritual, telah melakukan pelecehan seksual terhadap mereka di kliniknya.

0
499

Joao Teixeira de Faria yang dikenal sebagai Joao de Deus -Deus berarti Tuhan atau Dewa- berbasis di kota Abadiania tetapi memiliki ribuan pengikut di seluruh dunia.

Seorang fotografer Belanda, Zahira Leeneke Maus, mengatakan kepada Globo TV bahwa Joao Teixeira de Faria memanipulasinya untuk melakukan perbuatan seksual dan kemudian memperkosanya.

Dalam sebuah pernyataan terhadap Globo, kantor de Faria membantah dan “menolak keras (setiap dugaan) praktik yang tidak pantas selama perawatan yang dilakukannya”.

Dikatakan de Faria yang berusia 76 tahun itu justru telah menggunakan kekuatan dan daya yang dimilikinya untuk mengobati ribuan orang.

Sembilan perempuan Brasil yang identitasnya dirahasiakan, juga mengatakan kepada Globo TV bahwa sang wali penyembuh itu telah menyalahgunakan mereka secara seksual dengan dalih mentransfer ‘energi pembersihan’ kepada mereka.

Sebagian dari perempuan itu mengatakan, mereka datang kepada de Faria untuk memperoleh penyembuhan atas depresi yang mereka derita, namun dalam prosesnya mereka mengalami dugaan pelecehan itu.

Surat kabar O Globo yang terkait dengan Globo TV menulis, mereka juga telah berbicara dengan dua perempuan lain yang melontarkan tuduhan serupa.

De Faria bukanlah seorang dokter, bukan pula orang yang pernah belajar pengobatan di universitas. Ia pernah dijatuhi hukuman denda dan dipenjara karena melakukan praktek pengobatan tanpa izin.

Menurut ABC News, de Faria mengklaim bahwa ruh lebih dari 30 dokter dan entitas lain dapat masuk ke tubuhnya, dan merekalah yang melakukan penyembuhan.

Pembaca TV terkenal dunia, Oprah Winfrey pernah sengaja terbang ke Brasil untuk mengunjunginya pada 2013, dan menyaksikan de Faria ‘melakukan operasi psikis’ di kliniknya, di barat ibukota Brasilia.

Source: BBC NEWS – Indonesia

HUSIK RESPOSTA