Gajah dibunuh demi pelestarian lingkungan, apakah bisa diterima?

0
158

Kelompok pembela hak binatang marah terhadap keputusan Botswana mengizinkan kembali perburuan gajah, tetapi sebagian pelestari menerima hal itu dalam situasi tertentu.

Apa argumen yang mendukung dan menentang pemberantasan terencana ini?

Spesies yang menyebar

Untuk spesies yang menyebar, ada kesepakatan di antara para pelestari bahwa pemberantasan terencana bisa dilakukan.

Di negara bagian Florida di Amerika Serikat, perburuan tahunan diselenggarakan untuk menyingkirkan satu jenis ular piton Burma.

Ular jenis ini bisa tumbuh hingga tujuh meter dan mencapai berat 100 kilogram, serta terbukti mengancam mamalia dan burung setempat.

Situasi begitu buruk sehingga pihak berwenang mendatangkan penangkap ular dari India.

Ada kisah sukses juga berupa pemberantasan tikus di Pulau Lundy di Inggris barat daya yang membantu meningkatkan populasi burung laut hanya dalam 15 tahun.

Pemangsa manusia

Binatang yang terbukti menyerang manusia dimusnahkan secara selektif di Afrika dan Asia.

Tahun lalu, seekor harimau betina ditembak mati di negara bagian Maharashtra India.

Kementerian kehutanan mengatakan hewan itu telah membunuh lebih dari selusin manusia dan cara menghentikannya hanya dengan menembaknya.

Langkah ini ditentang oleh pembela hak binatang, yang bahkan ke pengadilan untuk menghentikan perburuannya.

Namun pegiat ini dikritik sebagai elite kota yang tak bersentuhan dengan kehidupan praktis penduduk desa yang terancam oleh sang pemangsa.

Kekeliruan

Namun pemberantasan terencana seperti ini bisa juga keliru.

Pemberantasan hiu di Australia Barat tahun 2014 berakibat hiu-hiu yang lebih kecil ditangkap dan banyak yang berasal dari spesies yang tak perlu dibunuh.

Pengadilan Australia menemukan bukti yang “melimpah” bahwa pembunuhan hiu tidak mengurangsi serangan hiu, lalu mereka melarang pemberantasan tersebut.

Penghidupan

Gajah makan sekitar 270 kilogram setiap hari dan bisa sangat destruktif saat makan, menginjak-injak tanaman, dan merobohkan pohon.

Botswana mengatakan faktor utama perizinan perburuan gajah ini karena “tingginya tingkat konflik manusia dengan gajah” yang “berdampak pada penghidupan penduduk”.

Botswana memiliki daerah proteksi luas dengan perkiraan sekitar 130.000 gajah hidup di sana, tetapi sekitar 27.000 hidup di luarnya dan sering kontak dengan manusia. Gajah-gajah ini sering menyerbu tanaman petani.

Memberi pendapatan

Gajah memiliki hidup yang panjang. Mereka tidak sering melahirkan seperti halnya harimau, tapi ketiadaan pemangsa dan hidup dalam kelompok keluarga besar menaikkan tingkat hidup mereka.

Beberapa negara beranggapan membunuh gajah merupakan pemecahan yang cepat.

“Perburuan terbatas akan membantu komunitas untuk mendapatkan imbalan finansial sampai tingkat tertentu serta menghindari masalah yang disebabkan oleh gajah,” kata Erik Verreynne, ahli hewan liar dan konsultan yang tinggal di Gaborone, Botswana.

Izin berburu diberikan kepada penduduk setempat yang menjualnya kepada pemburu dari negara-negara barat.

Seekor gajah dewasa bisa mencapai nilai US$55.000 (sekitar Rp783 juta).

Perlu

Petugas penjaga alam liar di Uganda mengeluarkan izin untuk berburu.

“Perburuan itu perlu. Itu bisa membantu mengendalikan populasi hewan, terutama pemangsa,” kata Bashir Hangi, kepala komunikasi Uganda Wildlife Authority.

Di Uganda, pemburu harus bekerjasama dengan pencari jejak dari kementrian kehutanan yang mengidentifikasi hewan mana yang bisa ditembak.

“Pemburu tak bisa membunuh sembarang hewan yang mereka temui,” tambah Hangi.

Ia mengatakan 80% pendapatan dari berburu lari ke penduduk setempat.

Namun kajian tahun 2013 oleh Economists at Large memperlihatkan bahwa penduduk lokal mendapat kurang dari 3% dari total pendapatan yang dihasilkan dari trophy hunting di Afrika.

Solusi kuno

Ahli gajah asal Nairobi Dr. Paula Kahumbu tak percaya pada istilah “perburuan etis”.

“Saya tak bisa membayangkan hewan cantik itu ditembak mati,” katanya, “kita butuh memecahkan masalah konflik manusia dengan gajah. Namun membunuh gajah itu solusi kuno dan tidak imajinatif.”

Pagar kawat

Dr. Kahumbu mengusulkan Botswana untuk membuka perbatasannya agar surplus gajah itu bisa menyebar ke negara tetangga seperti Angola.

Ia ingin Botswana mendirikan pagar kawat listrik guna mencegah gajah memasuki kawasan pertanian.

“Perburuan terbatas dicoba di Afrika Selatan dan gagal. Hanya membuat gajah stress dan memperburuk konflik manusia dengan hewan.”

Kehilangan habitat

Di Asia juga ada peningkatan konflik manusia dengan gajah.

Namun membunuh gajah bukan pemecahannya. Gajah bermasalah biasanya diusir kembali ke hutan.

“Ramainya gajah biasanya disebabkan kehilangan habitat, dan membunuh mereka bukan solusi,” kata Dr. Sanjeeta Pokharel, yang meneliti perilaku gajah Asia.

“Gajah hidup di kelompok sosial yang rumit. Kita tak pernah tahu dampak jangka panjang perburuan terhadap mereka,” tambahnya.

Keseimbangan

Berburu sering dipandang sebagai olahraga haus darah dan foto para pemburu berpose gembira di depan singa atau harimau atau gajah kini bisa dianggap merugikan citra negara mereka.

Berburu juga dipandang sebagai peninggalan kolonialisme, di mana orang kulit putih kaya mengeksploitasi kekayaan alam Afrika.

Namun Botswana – di mana terdapat seekor gajah untuk setiap 18 orang – berburu adalah pesoalan kekinian.

“Kami telah melihat balas dendam dari komunitas. Singa diracun, banyak hewan diperangkap dan mati mengenaskan. Perburuan kulit juga meningkat,” kata Verreynne.

“Botswana sedang mempertimbangkan semua pilihan. Namun kami harus mencapai keseimbangan antara kesejahteraan hewan dan manusia. Membunuh dengan peluru terkadang lebih baik dalam situasi tertentu.”

Fontes : BBC News Indonesia

 

HUSIK RESPOSTA