Gempa Lombok: Korban jiwa dicemaskan bertambah, evakuasi terkendala minimnya alat berat

0
354

Para petugas masih terus bekerja keras menangani dampak gempa di Lombok, khususnya di Lombok Utara, namun minimnya alat berat membuat tim SAR harus melakukan sebagian besar evakuasi secara manual.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan beberapa kawasan yang terdampak masih terisolir karena rusaknya jalan, sementara listrik di beberapa daerah masih terputus.

Sementara penanganan dan evakuasi korban menghadapi kendala peralatan sehingga banyak dilakukan secara manual.

“Ada beberapa desa, terutama di Lombok Utara, itu ada desa-desa kecil yang kebetulan masyarakat tinggal di bukit-bukit yang memang kondisi jalan ke sana memang sempit, kemudian jalannya mengalami kerusakan,” ujar Sutopo kepada BBC Indonesia, Senin (06/08).

Sutopo memperkirakan korban jiwa akibat gempa masih akan terus meningkat karena proses evakuasi masih berlangsung.

“Petugas dari tim pencarian dan penyelamatan bersama belum mencapai semua daerah di Lombok, terutama daerah yang paling rusak berat,” ujarnya mengacu pada Kabupaten Lombok Utara.

Kabupaten Lombok Utara merupakan kawasan yang paling banyak menderita korban akibat gempa berkekuatan 7 skala richter (SR) itu: sejauh ini setidaknya 72 korban terwas dan 64 orang luka terjadi di Lombok Utara.

Kabupaten ini mencakup antara lain tujuan wisata terkenal Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno. Sekitar 2.000 wisatawan, kebanyakan asing, sudah diungsikan keluar dari ketiga Gili atau pulau kecil itu.

gempa lombok
Warga mengangkat sepeda motornya dari reruntuhan rumah pascagempa di Desa Wadon, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, NTB, Senin (06/08).

Senada dengan Sutopo, Humas Basarnas Mataram Agus Hendra Sanjaya mengatakan, selain minimnya alat berat, rusak beratnya infrastruktur jalan semakin mempersulit proses evakuasi.

“Ini kita sangat membutuhkan alat berat. Dan alat berat saja pun tidak akan cukup tanpa alat ekstrikasi (alat untuk membongkar kendaraan dll untuk membebaskan korban yang terperangkap di dalamnay) yang kecil-kecil karena takutnya merusak,” ujar Agus.

Sebelumnya, Menkopolhukam Wiranto – yang ditunjuk Presiden memimpin langsung penanganan gempa Lombok – menyatakan bahwa pengadaan alat berat sejak awal menjadi perhatian pemerintah.

Alat berat itu sudah dikerahkan Senin (06/08) sore, untuk mengevakuasi korban jamaah sholat Isya yang tertimbun masjid yang roboh di desa Lading-Lading, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara.

Para jemaah itu sedang melakukan solat Isya pada Minggu malam lalu, ketika tiba-tiba atap masjid roboh akibat gempa berkekuatan 7 skala richter (SR) itu. Humas Basarnas Mataram Agus Hendra Sanjaya mengatakan, para jamaah semuanya tertimbun reruntuhan dan dicemaskan tewas.

“Kita berusaha untuk mengeluarkannya mengingat bangunannya ini hancur total, kegencet masuk ke dalam tanah. Ini atap paling atas aja sudah hampir rata dengan tanah. Kita memperkirakan masih banyak korban jiwa di bangunan masjid yang runtuh ini,” ujar Agus.

Bangunan masjid dua lantai itu rubuh setelah diguncang gempa berkekuatan tujuh Skala Richter itu pada Minggu (05/08) malam ketika jamaah masjid itu sedang solat Isya.
Bangunan masjid dua lantai itu rubuh setelah diguncang gempa berkekuatan tujuh Skala Richter itu pada Minggu (05/08) malam ketika jamaah masjid itu sedang solat Isya.

Gempa Minggu malam itu mengguncang Lombok yang belum pulih dari dampak dan trauma akibat gempa 6,4 SR yang mengguncang kawasan itu tepat sepekan sebelumnya.

Kepanikan masyarakat berlipat ganda oleh kecemasan akan datangnya Tsunami.

Salah satu warga Mataram, Lalu Gita Aryadu menuturkan getaran gempa yang berpusat di Lombok Utara, itu terasa jauh sampai Mataram, ibukota provinsi, yang berjarak empat jam perjalanan dari Lombok Utara.

“Kalau kerusakan pertama kan episentrumnya di Lombok Utara dan Lombok Timur. Yang banyak roboh adalah perumahan warga. Sekarang gempa yang kedua ini dirasakan cukup besar di kota Mataram,” kata Lalu Gita Aryadu.

“Kerusakan juga sangat hebat, terutama di bangunan instansi pemerintah. Di Mataram kan banyak bangunan-bangunan kantor pemerintah,” tambahnya.

Evakuasi bertahap

Sebagian besar wisatawan dan warga di Gili Trawangan, Gila Air dan Gili Meno, tiga pulau wisata kecil, diungsikan ke pulau Lombok atau ke Bali. Namun masih banyak yang menunggu giliran.

Seorang karyawan sebuah hotel di Gili Trawangan, Baiq Dian Siswantari mengatakan, Senin (06/08) siang itu masih menunggu.

“Saya belum bisa menyeberang, karena masih menunggu bantuan perahu cepat. Saya belum tahu kapan bisa berangkat,” katanya melalui sambungan telpon.

gempa lombok

Dia mengaku berada di pelabuhan penyeberangan Gili Trawangan bersama ratusan orang yang juga mengantri untuk dievakuasi. Di antara mereka terdapat pula turis asing yang “jumlahnya juga banyak,” kata Dian.

Sutopo Yuwono dari BNPB mengungkapkan evakuasi mengalami kendala lantaran keterbatasan jumlah kapal. Apalagi, katanya “air laut surut menyulitkan kapal besar untuk berlayar,” ujar Sutopo.

Sejumlah wisatawan mancanegara menuruni kapal cepat ketika tiba di Pelabuhan Bangsal, Lombok Utara, NTB, Senin (6/8).
Sejumlah wisatawan mancanegara menuruni kapal cepat ketika tiba di Pelabuhan Bangsal, Lombok Utara, NTB, Senin (6/8).

Evakuasi wisatawan yang ada di Gili Terawangan, Gili Air dan Meno terus dilakukan hingga Senin malam.

Sutopo menuturkan tidak ada data resmi berapa jumlah wisatawan, baik wisatawan asing maupun domestik yang berada di tiga pulau itu.

“Tim SAR gabungan yang dipimpin Basarnas telah berhasil mengevakuasi sebanyak 2.700 orang wisatawan asing dan domestik dari ketiga pulau tersebut pada 6/8/2018 pukul 15.00 WIB,” ujarnya.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut R. Agus H. Purnomo mengatakan berbagai kapal dikerahkan termasuk termasuk armada kapal negara milik Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Lembar serta Distrik Navigasi Benoa.”Menurut laporan yang kami terima, KSOP Lembar telah mengerahkan beberapa kapal untuk mengevakuasi para wisatawan dan warga yang ada di Gili Trawangan dan sekitarnya menggunakan kapal patroli, kapal Eka Jaya 26 dan fastboat Patagonia,” terang Agus Purnomo.

Kapal-kapal yang dikerahkan antara lain Kapal Patroli KPLP, Kapal Eka Jaya, Kapal Patagonia, Kapal Pelni KM Binaiya, dan Kapal ASDP KMP Port Link dan KMP Sindu Dwitama, selain kapal-kapal Basarnas, dan berbagai kapal milik berbagai instansi dan perusahaan swasta.”Kapal-kapal tersebut sudah diatur dengan tujuan pelabuhan Benoa, Lembar, Padangbai atau ke Pemenang,” tambah Agus.

Kesulitan Logistik

Perkara lain yang kemudian menyusul adalah kesulitan logistik yang mendera masyarakat Lombok.

Sutopo Yuwono dari BNPB mengakui logistik memang belum memenuhi seluruh kebutuhan korban gempa.

“Di sisi lain, beberapa daerah masih terisolir di Lombok Utara, khususnya di daerah gunung. Belum bisa dijangkau karena akses jalannya kecil dan evakuasi serta penyelamatan pertolongan belum bisa dilakukan,” ujarnya.

Warga mengangkat sepeda dari reruntuhan rumah yang rusak akibat gempa bumi di Lombok Barat, NTB, Senin (6/8)
Warga mengangkat sepeda dari reruntuhan rumah yang rusak akibat gempa bumi di Lombok Barat, NTB, Senin (6/8)

Selain itu, air bersih masih sangat menjadi masalah lantaran jaringan PDAM di Lombok Utara dan Lombok Timur rusak. Begitu juga listrik yang terputus di berbagai wilayah yang terkena gempa.

Sumber : BBC Indo

HUSIK RESPOSTA