Karyawan Kurang Tidur Jadi Masalah, Perusahaan di Jepang Beri Kebijakan Unik

0
107

KOMPAS.com – Tidur cukup merupakan keharusan bagi tiap orang agar kondisi kesehatannya tetap terjaga. Sejumlah perusahaan di Jepang pun memahami ini, dan berharap karyawannya memiliki durasi tidur yang cukup. Dilansir dari The Guardian, Jepang menjadi negara yang warganya, terutama karyawan, memiliki durasi tidur yang kurang.

Berdasarkan hasil survei di 28 negara, karyawan pria dan perempuan di Jepang rata-rata tidur selama 6 jam 35 menit dalam sehari. Angka ini mengindikasikan bahwa kualitas tidur mereka 45 menit lebih sedikit dibandingkan rata-rata waktu tidur internasional. Selain itu, sebuah jajak pendapat yang dilakukan pembuat produk kesehatan, Fuji Ryoki, menemukan bahwa 92,6 persen masyarakat Jepang yang berusia di atas 20 tahun mengalami tidak cukup tidur.

Perusahaan riset RAND Corporation mengungkapkan bahwa kurang tidur dapat berdampak terhadap ekonomi suatu negara. Adapun, dampak terhadap Jepang adalah kerugian ekonomi hingga 138 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2,4 triliun per tahun. Boleh tidur Dengan melihat dampak ekonomi dari masalah kurang tidur itu, sejumlah perusahaan di Jepang pun membolehkan pegawainya menutup mata sejenak, untuk “membayar utang” kurang tidurnya di kantor.

Pekerja yang sedang lelah boleh membaringkan kepalanya di atas meja selama beberapa saat. Pada umumnya, perusahaan memberi toleransi perilaku “inemuri” atau tidur di kantor sebagai perwujudan komitmen terhadap karyawan mereka, dan bukan sebagai tanda kemalasan. Meski begitu, biasanya karyawan hanya dapat tidur dalam keadaan duduk, dan tak berusaha membuat dirinya merasa nyaman.

Sejumlah perusahaan startup kemudian membuat kebijakan yang lebih berani. Startup penyedia layanan teknologi informasi, Nextbeat, menyediakan dua kamar tidur, masing-masing untuk pria dan perempuan. Menariknya, kamar ini memiliki fasilitas yang menghalangi kebisingan luar ruangan masuk ke dalam.

Ponsel, tablet, atau laptop juga tidak boleh dibawa masuk, sehingga para karyawan yang menggunakan ruangan ini dapat beristirahat optimal. “Tidur siang dapat meningkatkan kehidupan seseorang, seperti diet yang seimbang dan olahraga,” ujar seorang petinggi Nextbeat, Emiko Sumikawa kepada kantor berita Kyodo.

 Selain itu, Nextbeat juga meminta karyawan pulang pukul 21.00 dan tidak melakukan kerja lembur yang berlebihan. Ini untuk menghindari insiden “karoshi” atau kematian karena terlalu banyak bekerja. Sementara, ada perusahaan yang menawarkan uang insentif agar karyawannya tidak bekerja lembur dan tidur tak terlalu malam. Perusahaan lain, wedding planner bernama Crazy, memberikan apresiasi kepada karyawannya yang tidur minimal 6 jam dengan memberikannya angka yang dapat ditukar dengan makanan.

Crazy bahkan memiliki aplikasi untuk memantau jam tidur karyawannya. Dengan demikian, mereka dapat uang tambahan hingga 64.000 yen atau sekitar Rp 8,3 juta per tahun jika tidurnya cukup.   Tak hanya swasta, Pemerintah Jepang pun ikut bersikap. Kementerian Kesehatan merekomendasikan kepada karyawan untuk tidur setidaknya 30 menit menjelang sore.

Fontes: Kompas.com

HUSIK RESPOSTA