Paus Fransiskus: Orang yang Tidak Mau Memberi Adalah Budak Harta

Hidup adalah untuk mencintai, bukan untuk mengumpulkan harta, kata Paus Fransiskus.

0
102

Dalam kenyataan, arti yang sebenarnya dan tujuan kekayaan adalah menggunakannya untuk melayani orang lain dengan penuh kasih dan mempromosikan martabat manusia, kata paus pada 7 November kepada umat yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus.

Dunia cukup kaya dalam sumber daya untuk memenuhi kebutuhan dasar semua orang, kata paus. “Namun, masih banyak orang hidup dalam kemiskinan dan kekurangan sumber daya – digunakan tanpa pertimbangan – terus memburuk. Tapi, hanya ada satu dunia! Ada satu kemanusiaan.”

“Kekayaan dunia saat ini berada di tangan segelintir orang, sebagian kecil, dan banyak orang menghadapi kemiskinan  ekstrem dan  penderitaan,” katanya kepada mereka yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus.

Paus melanjutkan rangkaian khotbahnya tentang Sepuluh Perintah Allah, yang berfokus pada perintah: “Jangan mencuri,” yang mencerminkan rasa hormat terhadap milik orang lain.

Namun, katanya, orang Kristen juga harus membaca perintah Allah dalam terang iman dan doktrin ajaran sosial Gereja, yang menekankan pemahaman bahwa barang ciptaan diperuntukkan bagi seluruh umat manusia.

Katekese Gereja Katolik mengajarkan bahwa tujuan universal “primordial” dari barang-barang tidak mengurangi hak orang atas harta pribadi. Namun, kebutuhan untuk mempromosikan kebaikan bersama juga membutuhkan pemahaman dan penggunaan harta pribadi secara tepat.

“Tidak ada yang mutlak menguasai sumber daya,” katanya, yang mencerminkan “makna yang positif dan lebih luas dari perintah, ‘Jangan mencuri.’”

Pemilik adalah benar-benar pengatur atau pelayan barang, yang tidak boleh menganggap “eksklusif untuk dirinya sendiri tetapi umum, untuk orang lain juga, dalam arti bahwa mereka dapat menguntungkan orang lain maupun dirinya sendiri,” kata paus, mengutip katekismus.

Barang-barang material yang dimiliki membawa banyak tanggung jawab, kata paus.

Jika kelaparan ada di dunia, kata paus, itu terjadi karena hasrat untuk mencari keuntungan ekonomi yang muncul pertama, misalnya,  menjaga harga permintaan tetap tinggi makanan  dibuang.

Apa yang kurang, katanya, adalah naluri bisnis yang bebas dan berwawasan jauh ke depan yang menjamin produksi yang memadai dan perencanaan yang adil, yang menjamin distribusi yang adil.”

Paus menggarisbawahi pentingnya melihat harta benda dan kekayaan dari perspektif Kristiani tentang pemberian dan kemurahan hati, ia mengatakan apa yang benar-benar saya miliki adalah apa yang saya tahu bagaimana untuk memberi.”

“Jika saya tahu bagaimana memberi, saya terbuka, saya kaya,” tidak hanya dalam harta benda tetapi juga dalam kemurahan hati, pahamilah itu sebagai kewajiban untuk memberi sehingga setiap orang dapat memiliki bagian, katanya. “Faktanya, jika saya tidak mau memberikan sesuatu barang hal itu disebabkan karena benda itu menguasai saya, saya adalah budak, benda itu memiliki kekuatan terhadap saya.”

Iblis selalu memasuki kehidupan manusia “melalui kantong-kantong” dengan uang, tambah paus. “Pertama-tama,  cinta akan uang, perjuangan untuk memilikinya, kemudian datang kesombongan” dan bualan tentang kekayaan yang kita miliki, katanya, “diakhiri dengan keangkuhan, arogansi. Ini adalah bagaimana iblis beroperasi di dalam  diri kita.”

Sebaliknya, kepemilikan harus menjadi peluang untuk melipatgandakan barang-barang tersebut “dengan kreativitas dan menggunakannya dengaan kemurahan hati dan cara itu tumbuh dalam kebaikan dan kebebasan,” katanya.

Sementara dunia berusaha untuk memiliki lebih banyak dan lebih banyak lagi, Tuhan – yang kaya akan belas kasih – menebus dunia dengan membuat dirinya miskin, membayar tebusan yang tak ternilai harganya di kayu salib, katanya.

“Apa yang membuat kita kaya bukanlah barang, tetapi adalah cinta,” kata paus. “Hidup bukanlah waktu untuk memiliki sesuatu tetapi untuk mencintai.”

Bagi orang Kristen, pengertian penuh “Jangan mencuri” berarti mencintai dengan apa yang dimiliki, memanfaatkan apa yang kita punyai untuk orang lain adalah cara untuk mencintai orang lain sebaik mungkin, kata paus.

“Dengan begini hidup Anda menjadi baik dan kepemilikan benar-benar menjadi sebuah anugerah.”

SOURCE: UCA NEWS INDONESIA

HUSIK RESPOSTA