“Remaja Malaysia Bunuh Diri Setelah Bikin “Polling” di Instagram Stories”

0
225

Seorang remaja berusia 16 tahun asal Malaysia dilaporkan bunuh diri setelah memposting sebuah polling lewat akun Instagram miliknya. Dalam polling tersebut, remaja itu meminta pendapat kepada para pengikutnya, apakah ia harus mati atau tidak.

Kepolisian bagian Sarawak, Malaysia Timur mengatakan gadis tersebut memposting jajak pendapat bertuliskan, “Sangat Penting, Bantu Saya Memilih Harus Hidup atau Mati”.

Tak disangka, sebanyak 69 persen responden memilih opsi “Mati” pada polling tersebut dan ia pun kemudian bunuh diri.

Pengacara sekaligus anggota parlemen di Penang, Ramkarpal Singh, para responden yang memilih opsi “Mati” dalam jajak pendapat tersebut bisa dinyatakan bersalah atas insiden ini. Menurutnya, ada dorongan dari netizen yang mempengaruhi keputusan remaja tersebut sehingga melakukan bunuh diri.

“Apakah gadis itu akan tetap hidup jika mayoritas pengguna internet di akun Instagram-nya mencegahnya bunuh diri? Percobaan bunuh diri adalah sebuah pelanggaran di negara ini, maka orang yang terlibat dalam upaya bunuh diri juga melanggar,” katanya.

Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia, Syed Saddiq Syed Abdul Rahman, juga turut angkat bicara soal insiden tersebut, Ia mengatakan tragedi ini menandakan perlunya diskusi tingkat nasional tentang kesehatan mental di negara itu.

“Saya benar-benar khawatir tentang keadaan kesehatan mental pemuda kita. Ini masalah nasional yang harus ditanggapi dengan serius,” ungkapnya.

Kasus ini mengundang pihak Instagram untuk berkomentar. Tak hanya mengungkapkan rasa belasungkawa, Instagram juga membuka kemungkinan untuk mengubah kebijakan konten agar hal seperti ini tak lagi terjadi.

“Berita itu tentu sangat mengejutkan dan sangat menyedihkan, doa kami untuk kepada gadis di Malaysia itu,” kata Vishal Shah, Kepala Produk Instagram.

“Kami mencari apa yang kami perlukan untuk membuat beberapa perubahan kebijakan seperti yang telah kami lakukan dengan Live baru-baru ini,” lanjutnya.

Sementara Kepala Kebijakan Publik Instagram, Karina Newton mengatakan bahwa polling yang dilakukan oleh pelaku sebelum bunuh diri, sejatinya sudah melanggar pedoman komunitas Instagram.

Pasalnya, semua konten terkait kekerasan dan bunuh diri sudah diharamkan oleh Instagram.

Dikutip KompasTekno dari The Guardian, Kamis (16/5/2019), kasus bunuh diri atas pengaruh konten di media sosial seperti ini sejatinya bukan yang pertama kali terjadi.

Pada 2017 lalu, seorang remaja perempuan 14 tahun asal Inggris bernama Molly Russels melakukan bunuh diri. Kedua orang tuanya menemukan akun Instragram milik anaknya mengandung konten-konten negatif terkait depresi dan bunuh diri.

Pada bulan Februari lalu, Instagram membuat sebuah kebijakan baru terkait konten yang sensitif dan mengandung kekerasan.

Instagram memblokir gambar dan konten yang berkaitan dengan aksi melukai diri sendiri dari platform-nya. Alasannya tak lain untuk menjaga keamanan para pengguna yang sangat rentan.

Fontes : Kompas.com

LEAVE A REPLY