Teroris Bikin Panci Tak Lagi Sekadar Alat Masak

Panci yang biasanya digunakan sebagai alat masak, oleh kelompok teroris justru jadi alat untuk menebar teror.

0
572

JAKARTA, KOMPAS.com – Panci lazimnya digunakan sebagai perkakas untuk memasak atau menanak nasi.

Namun oleh sekelompok orang, panci digunakan sebagai alat menebar teror setelah dirakit menjadi bom.

bom panci baru diketahui muncul dan menggegerkan Boston, Amerika Serikat pada 2013.

Garis akhir lari maraton yang sedianya menjadi selebrasi meriah dan sambutan nan riuh, berubah menjadi teriakan histeris dan pemandangan mencekam.

Tiga orang tewas dan 260 orang luka akibat peristiwa ini. Dari penyelidikan, diketahui dua panci presto masing-masing berukuran 1,6 galon digunakan untuk mengemas bahan peledak, paku, dan pecahan peluru mematikan lainnya.

Satu paket bom berisi pecahan logam dan gotri, sementara paket lainnya berisi paku. Teror bom panci di AS terulang pada September 2016, tepatnya di New York dan New Jersey.

Insiden ini diketahui melukai puluhan orang. Ledakan dalam panci tersebut bisa berdampak mematikan lantaran benda-benda di dalamnya berhamburan saat meledak dan melukai orang di sekitarnya.

Tak hanya di AS, modus bom panci juga terjadi di sejumlah negara lainnya seperti India pada 2006 yang menewaskan 209 orang, di Swedia yang menewaskan pelakunya, serta di Afganistan, Pakistan, dan Nepal.

Menurut Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar, bom panci telah diadaptasi kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) untuk menebar teror ke masyarakat dunia.

Metode ini mulanya digunakan kelompok Al Qaeda yang menyerukan simpatisannya membuat peledak dari panci presto untuk melakukan serangan.

Panduan membuatnya juga dimuat di situs Al Qaeda. Bahkan, ada sebuah publikasi online, “Inspire” edisi tahun 2010 yang menyebut bahwa panci presto adalah metode paling efektif untuk membuat bom sederhana.

“Jadi bom panci ini merupakan yang mereka rilis secara massal ke seluruh penjuru dunia,” ujar Boy di kompleks Mabes Polri, Jakarta, Selasa (28/2/2017).

(Baca: Polri: Bom Panci Kemungkinan Diledakkan di Lokasi Lain yang Lebih Dahsyat)

Informasi mengenai efektifitas dan panduan membuat bom ini bisa dijumpai dengan mudah di dunia maya.

Boy mengatakan, ISIS juga mengunggah panduan itu di situsnya. bom panci dipilih karena mudah membuatnya, namun punya daya ledak mematikan.

Biasanya panci yang digunakan yakni panci presto yang bertekanan tinggi. Bahan-bahannya pun menggunakan alat keseharian yang mudah didapatkan.

“Mereka anggap bom panci lebih simple, tapi tujuan melakukan teror tercapai,” kata Boy.

Modus yang sama dilakukan Yayat Cahdiyat, pelaku bom teror di Kelurahan Arjuna, Kota Bandung.

(Baca: Panci hingga Gulungan Kabel Ditemukan di Kontrakan Pelaku Bom Bandung)

Ia merakit sendiri bom panci itu untuk diledakkan di Taman Pandawa, Kelurahan Arjuna. Setelah bom meledak, ia kabur ke kantor kelurahan dan terjadi baku tembak dengan Densus 88.

Yayat tewas setelah dilumpuhkan petugas dengan tembakan di bagian dada.

“Dari olah TKP, ada beberapa kesamaan dengan ledakan di negara-negara tersebut,” kata Boy.

Di Indonesia, bom panci sudah beberapa kali digunakan untuk menebar teror.

bom panci Tasikmalaya

Bom rakitan dengan wadah panci berdiameter 25 sentimeter dengan tinggi 15 sentimeter meledak di halaman Markas Polsek Rajapolah, Tasikmalaya, pada Juli 2013.

Dua pelaku ditangkap hidup-hidup, sementara dua lainnya tewas ditembak Densus 88. Dalam bom tersebut ditemukan sejumlah benda seperti gotri, paku payung, dan serbuk kuning.

Selain itu, ditemukan juga sejumlah kabel dan sebuah telepon genggam yang diduga dipakai sebagai alat pemicu bom. Jenis ledakan bomnya low explosive.

(Baca: Bom Rakitan di Tasikmalaya Berbentuk Bom Panci)

Serpihan bom tersebut tersebar hingga jarak 50 meter. Sebelum meledak, bom yang dibungkus keresek hitam itu disimpan dua pria di dekat dinding kantor Polsek Rajapolah.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, namun suara ledakan terdengar cukup keras.

bom panci Bekasi

Temuan bom panci di Bekasi belum lama ini terjadi, yakni Desember 2016. Polisi menangkap Dian Yulia Novi di rumah kontrakannya bersama sebuah bom panci yang belum meledak.

Bobotnya sekitar tiga kilogram. Diperkirakan bom panci tersebut punya daya ledak mencapai radius 300 meter dengan kecepatan 4.000 km/jam.

Bom itu kemudian dijinakkan tak jauh dari lokasi penangkapan. Rencananya, Novi dijadikan “pengantin” untuk bom bunuh diri di kompleks Istana Kepresidenan.

(Baca: Kronologi Penangkapan Terduga Teroris di Bekasi)

Dalam kasus ini, polisi menangkap 14 orang yang memiliki peran berbeda.

Dari hasil penyelidikan, kelompok yang dipimpin Nur Solihin itu ternyata dibiayai oleh Bahrun Naim, warga negara Indonesia yang bergabung dengan kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Suriah.

Kelompok tersebut menerima dua kali kiriman dana dari Bahrun Naim sebagai modal aksi mereka.

HUSIK RESPOSTA